ILMU PENGETAHUAN BAGAI CAHAYA DALAM GELAP

Sabtu, 14 November 2009

HIPERTIMIA

Hipertimia adalah suasana perasaan yang secara perfasif dan dalam waktu yang lama memperlihatkan semangat dan kegairahan yang berlebihan terhadap berbagai aktivitas kehidupan. Perilakunya menjadi hiperaktif dan tampak energik secara berlebihan. Konsep hipertimia pertama kali diperkenalkan oleh Stark KW pada awal abad ke-19. Meskipun istilah ini tidak tercantum dalam DSM-IV dan ICD-10, hipertimia penting untuk menggambarkan tingkatan afektif berupa kegembiraan yang berlebih, overoptimistik, atau bahagia; ekstravert, dan beberapa kriteria lain, yang dalam skala tertentu berbeda dengan hipomania.

Afek hipertimia dalam masyarakat relatif jarang, umunya bersifat kronik, dan sering kali berkembang ke arah gangguan afektif bipolar. Sebagian besar dimulai pada fase awal remaja dan akan dialami dalam jangka waktu yang lama atau bahkan seumur hidup. Gambaran klinisnya adalah selalu energik, banyak bicara, penuh perencanaan, banyak ide dan umumnya mampu menularkan idenya kepada orang lain, bersikap acuh tak acuh terhadap segala bahaya yang mungkin terjadi akibat perbuatannya. Gejolak seksual biasanya tinggi dan promiskuitas dapat terjadi.

Keadaan hipertimia sering kali diikuti dengan sikap kasar, mudah marah, dan melakukan suatu perbuatan secara terus-menerus. Penyalahgunaan serta ketergantungan alkohol dan stimulansia tidak jarang menyertai keadaan hipertimia. Komplikasi lanjutan hipertimia terhadap kehidupan sosial penderitanya adalah kegagalan bisnis dan permasalahan rumah tangga yang meningkat.

Hingga saat ini, belum ada satu pun penelitian yang khusus menelaah bagaimana penanganan yang tepat untuk hipertimia. Karena sering disamakan dengan hipomania dan gangguan afektif bipolar, maka terapi yang diberikan adalah litium atau divalproex. Namun, mengingat perjalanan penyakit yang lama, maka pemberian terapi jangka panjang harus diwaspadai akan efek samping yang mungkin muncul.

[fulltext pdf download]

0 komentar:

Poskan Komentar